PenggantiCornelis de Houtman dalam menguasai Indonesia adalah - 21775807 aqsha5876 aqsha5876 21.02.2019 IPS Sekolah Menengah Pertama terjawab Pengganti Cornelis de Houtman dalam menguasai Indonesia adalah 1 Lihat jawaban Iklan Iklan Nadya231105 Nadya231105 Jacob van Neck. Maaf jika salah . Makasih banyak ^_^ Akhirnyamereka kembali ke Belanda pada tahun 1597. Walaupun pelayaran ini gagal, namun dapat di anggap kemenangan oleh bangsa belanda karena bangsa belanda sudah mulai berani berlayar ke arah Timur. Maka dari itu, cornelis de houtman di anggap sebagai orang yang telah membuka jalur perdagangan rempah rempah bagi bangsa belanda. Awalterjadinya penjajahan di bumi pertiwi ini gegara Cornelis de Houtman pertama kali mendarat di Banten pada tahun 1595 Bacalahparagraf narasi sejarah berikut!Tahun 1596 Cornelis de Houtman beserta armadanya berhasil mencapai KepulauanNusantara. Ia dan rombongan mendarat di Banten. Sesuai dengan niatnya untukberdagang maka kehadiran Cornelis de Houtman diterima baik oleh rakyat Banten.Dengan melihat pelabuhan Banten yang begitu strategis dan adanya hasil Apakahkeistimewaan dari perjalanan Cornelis de Houtman menuju ke nusantara. Redstoneblocker1 Bisa melakukan transaksi jual beli di Indonesia . 0 votes Thanks 0. More Questions From This User See All. Syahrulchyca February 2019 | 0 Replies . Matras adalah alat untuk cabang olahraga . Answer. Syahrulchyca February 2019 | 0 Replies Sebagaievaluasi diri terhadap kinerja peserta didik. Materi soal Penilaian Akhir Tahun ini diambilkan dari kisi-kisi IPS Kelas 8 SMP/MTs Kurikulum 2013. Soal berbentuk pilihan ganda (PG) dengan 4 (empat) opsi jawaban dengan rincian pilihan jawaban A, B, C atau D, dengan total pertanyaan 45 soal. Berikut admin tulis Soal PAT/UKK IPS Kelas 8 SMP KORANMAKASSARCOM — Cornelis de Houtman (lahir di Gouda, Holland Selatan, Belanda, 2 April 1565 - meninggal di Aceh, 11 September 1599 pada 6Pwt66y. Tokoh penjelajah pertama Belanda ke Nusantara adalah Cornelis de Houtman. Cornelis de Houtman pertama kali mendarat ke Nusantara di Pelabuhan Banten pada tanggal 22 Juni 1596. Rencana awal ekpedisi yang dilakukan oleh Cornelis de Houtman adalah mencari daerah penghasil rempah-rempah. De Houtman mengetahui keberadaan Sunda Kelapa sebagai tempat memperoleh rempah-rempah dari informasi yang diberikan Jan Huygen van Linschoten. Van Linschoten merupakan seorang Belanda yang bekerja untuk Portugis yang telah mengetahui keberadaan Nusantara setelah datang langsung dengan rombongan dari Portugis ke Nusantara. Informasi dari Linschoten inilah yang kemudian dijadikan dasar ekspedisi dari Cornelis de Houtman. Berdasarkan penjelasan tersebut, jawaban yang tepat adalah C. Cornelis de Houtman Lahir 1565-04-022 April 1565 Gouda, Holandia, Tujuh Belas Provinsi Meninggal 1 September 15991599-09-01 umur 34 Kesultanan Aceh Kebangsaan Belanda Pekerjaan Penjelajah Cornelis de Houtman lahir di Gouda, Holland Selatan, Belanda, ii April 1565 – meninggal di Aceh, 11 September 1599 pada umur 34 tahun[1] adalah seorang penjelajah Belanda yang menemukan jalur pelayaran dari Eropa ke Republic of indonesia dan berhasil memulai perdagangan rempah-rempah bagi Belanda. Cornelis de Houtman bersama armadanya tiba pada 27 Juni 1596 di perairan Banten,[i] lalu kembali lagi pada 14 Agustus 1597 membawa 240 kantong lada, 45 ton pala, dan thirty bal bunga pala.[2] Keberhasilannya ini membuka jalan bagi ekspedisi-ekspedisi selanjutnya yang berujung pada praktik kolonialisme di Nusantara. Latar belakang dan awal perjalanan [sunting sunting sumber] Pada tahun 1592 Cornelis de Houtman dikirim oleh para pedagang Amsterdam ke Lisboa untuk menemukan sebanyak mungkin informasi mengenai Kepulauan Rempah-Rempah. Pada saat de Houtman kembali ke Amsterdam, January Huygen van Linschoten juga kembali dari India. Para pedagang tersebut memastikan bahwa Banten merupakan tempat yang paling tepat untuk membeli rempah-rempah. Pada 1594, mereka mendirikan compagnie van Verre yang berarti “Perusahaan jarak jauh”, dan pada two April 1595 empat buah kapal meninggalkan Amsterdam Amsterdam, Hollandia, Mauritius dan Duyfken. Perjalanannya dipenuhi masalah sejak awal. Penyakit seriawan merebak hanya beberapa minggu setelah pelayaran dimulai akibat kurangnya makanan. Pertengkaran di antara para kapten kapal dan para pedagang menyebabkan beberapa orang terbunuh atau dipenjara di atas kapal. Di Madagaskar, di mana sebuah perhentian sesaat direncanakan, masalah lebih lanjut menyebabkan kematian lagi, dan kapal-kapalnya bertahan di sana selama enam bulan. Teluk di Madagaskar tempat mereka berhenti kini dikenal sebagai “Kuburan Belanda”. Tiba di Jawa [sunting sunting sumber] Pada 27 Juni 1596, ekspedisi de Houtman tiba di Banten. Hanya 249 orang yang tersisa dari pelayaran awal. Penerimaan penduduk awalnya bersahabat, tetapi setelah beberapa tabiat kasar yang ditunjukkan awak kapal Belanda, Sultan Banten, bersama dengan petugas Portugis di Banten, mengusir kapal Belanda tersebut. Ekspedisi de Houtman berlanjut ke utara pantai Jawa. Kapalnya takluk ke pembajak. Beberapa tabiat buruk berujung ke salah pengertian dan kekerasan di Madura seorang pangeran di Madura terbunuh, beberapa awak kapal Belanda ditangkap dan ditahan sehingga de Houtman membayar denda untuk melepaskannya. Kapal-kapal tersebut lalu berlayar ke Bali, dan bertemu dengan raja Bali. Mereka akhirnya berhasil memperoleh beberapa pot merica pada 26 Februari 1597. Kapal-kapal Portugis melarang mereka mengisi persediaan air dan bahan-bahan di St. Helena. Dari 249 awak, hanya 87 yang berhasil kembali. Cornelis de Houtman tewas dalam perjalanan keduanya di atas geladak kapal di Aceh saat pertempuran dengan pasukan Inong Balee yang dipimpin Malahayati tanggal 11 September 1599 dalam pertempuran satu lawan satu dengan Malahayati. Akibat dari perjalanan ini [sunting sunting sumber] Meski perjalanan ini bisa dibilang gagal, ini juga dapat dianggap sebagai semacam kemenangan bagi Belanda. Pihak Belanda sejak saat itu mulai berlayar untuk berdagang ke Timur. Dalam lima tahun kemudian, 65 kapal Belanda telah berlayar ke wilayah tersebut dan bisa disebut memulai penjajahan Hindia Belanda. Referensi [sunting sunting sumber] ^ a b “Cornelis de Houtman – Mozaik Tirto – . Diakses tanggal 2018-07-30 . ^ “Melipat Laba di Pelayaran Kedua”. Historia – Obrolan Perempuan Urban . Diakses tanggal 2018-07-xxx . Pranala luar [sunting sunting sumber] “Houtman, Cornelis”. New International Encyclopedia. 1905. Dafunda Gokil – Tahukah kalian, Indonesia pada zaman dahulu dikenal sebagai salah satu kepulauan di timur yang dikenal memiliki rempah – rempah yang sangat banyak dan istimewa. Oleh karena alasan tersebut, Indonesia pun banyak dikunjungi oleh para turis dari luar negeri, tapi tujuan mereka pun berbeda – beda. Ada baik, pasti ada jahatnya, begitulah siklus hidup di dunia ini. Berbicara mengenai hal itu, salah satunya adalah Cornelis de Houtman. Pelaut Belanda yang sukses menginjakkan kakinya di Tanah Air lewat Banten pada 27 Juni 1596. Berbekal informasi dari para pelaut pada akhir abad ke-16, ia berangkat dari pelabuhan Amsterdam bersama empat kapal dagang yang mengiringi. kedatangan Cornelis de Houtman di Nusantara, menjadi cikal bakal penjajah Belanda mulai bercokol di Indonesia. Penasaran dengan ceritanya? Berikut kami jelaskan dibawah ini. Content Navigation 1Cornelis de Houtman, Pria Belanda yang jadi Penyebab Indonesia Dijajah Hingga Ratusan Tahun!Tergoda karena cerita yang diceritakan oleh orang – orangMembentuk serikat dagang BelandaDatang ke Indonesia, dan menelan korban ratusan orangSukses temukan Indonesia! Tergoda karena cerita yang diceritakan oleh orang – orang Tahukah kalian bahwa pria kelahiran Gouda, 2 April 1565 ini, tertarik menjelajah ke sisi Timur dunia setelah mendapat informasi dari kalangan pedagang Eropa tentang keberadaan Pulau “Surga” yang tersembunyi. Kawasan tersebut, diyakini memiliki kekayaan alam berupa rempah-rempah. Cornelis de Houtman pun segera mempersiapkan pelayaran setelah dirinya ditunjuk oleh Para otoritas saudagar Belanda. Dalam The Cradle of Colonialism 1963, George Masselman menyebutkan bahwa armada Cornelis de Houtman berangkat dari Amsterdam menuju Lisboa, Portugal. Tujuannya untuk mencari informasi sebanyak-banyaknya tentang keberadaan pulau misterius tersebut. Membentuk serikat dagang Belanda Tepat pada 1594, Cornelis de Houtman bersatu dengan seluruh pedagang Belanda dan membentuk Compagnie van verre te Amsterdam perusahaan jarak Jauh yang berpusat di Amsterdam. Perserikatan dagang baru ini dibentuk untuk menemukan kepulauan yang menghasilkan rempah-rempah. Hingga pada 2 April 1595, Cornelis de Houtman ditunjuk agar segera angkat sauh dan mulai berlayar pada 2 April 1595. Datang ke Indonesia, dan menelan korban ratusan orang Pria tersebut diiringi oleh empat kapal, Amsterdam, Hollandia, Mauritius, dan Duyfken, Conelis de Houtman memulai penjelajahannya menuju sisi Timur dunia. Nahas, karena tipisnya stok makanan, banyak kru kapal yang tewas karena menderita penyakit sariawan. Tak jarang, konflik internal antara kapten kapal dan kru juga jadi masalah tersendiri. Pengaruh iklim tropis yang berbeda dengan cuaca di Belanda, juga membuat banyak kru dari keempat kapal tersebut berguguran satu demi satu. pada 27 Juni 1596, rombongan armada Cornelis de Houtman tiba di pulau Banten. Dilansir dari total, ada sekitar 249 orang yang selamat sampai di tujuan. Para saudagar asing ini, awalnya diterima dengan baik oleh otoritas setempat. Namun sayang, karena perangai buruk seperti keluar masuk kota seenaknya, banyak dari mereka yang ditangkap oleh petugas keamanan kesultanan Banten. Sukses temukan Indonesia! Gara – gara pria ini, akibat yang diterima Indonesia pun sangat fatal. Para pedagang asing asal Belanda, termasuk Frederick de Houtman yang merupakan kakak Cornelis, dijebloskan ke dalam penjara. Alhasil, dirinya pun harus mengeluarkan denda berupa uang untuk membebaskan sang kakak. Tingkah polah mereka pun harus dibayar mahal pada saat itu. Dilansir dari Cornelis beserta rombongan dagang Belanda lainnya, terpaksa digiring keluar dan diusir dari tanah Banten. Meski tak berhasil menemukan rempah-rempah yang dicari, toh Cornelis de Houtman berhasil menemukan jalur pelayaran menuju ke Indonesia. Dirinyalah yang nantinya membuka jalan bagi pelaut-pelaut Belanda lain untuk datang kembal ke tanah Nusantara. Bukan sebagai pedagang, melainkan berubah menjadi penjajah yang kelak mendirikan kolonialisme di Indonesia selama ratusan tahun lamanya. Tak heran jika Indonesia dijajah Belanda di kemudian hari. Selain tertarik dengan potensi rempah-rempahnya, kolonialis Eropa tersebut hendak melebarkan bisnis pedagangannya lebih luas. - Empat kapal Belanda yang dipimpin Cornelis de Houtman tiba di perairan Banten pada 27 Juni 1596, tepat hari ini 422 tahun lalu. Sebelum angkat sauh dari Amsterdam, Cornelis mendapat informasi bahwa di timur jauh sana, ada kepulauan penghasil rempah-rempah hari itulah, orang-orang Belanda telah menemukan Banten yang sejatinya hanya merupakan sebagian kecil dari kepulauan rempah-rempah paling menggiurkan di dunia. Praktik kolonialisme Belanda di Nusantara segera dimulai, dan Cornelis de Houtman adalah pembuka Sang Perintis Desas-desus mengenai kepulauan rempah-rempah yang terletak di negeri antah-berantah menjadi isu yang marak diperbincangkan oleh kalangan pedagang di Eropa pada akhir abad ke-16 itu, termasuk di saudagar di negeri kincir angin kemudian mengutus Cornelis de Houtman pergi ke Portugal, tepatnya ke Lisboa Lisbon. Kala itu, sebagian wilayah dunia, termasuk beberapa tempat yang memiliki potensi rempah-rempah, memang dikuasai oleh Kerajaan Portugis. Sebagian lainnya diduduki oleh Kerajaan oleh George Masselman dalam The Cradle of Colonialism 1963, Cornelis berangkat dari Amsterdam menuju Lisboa untuk melakukan investigasi sekaligus mencari informasi sebanyak-banyaknya mengenai kebenaran atas keberadaan pulau surga itu hlm. 86.Selama dua tahun, Cornelis menghabiskan waktunya di Portugal. Dan ketika ia kembali ke negerinya, Jan Huygen van Linschoten, seorang Belanda yang bekerja untuk Portugis di India, kebetulan juga baru saja pulang ke dari India itu, van Linschoten menerbitkan laporan perjalanannya dengan tajuk Itinerario Jan S. Aritonang, Sejarah Perjumpaan Kristen dan Islam di Indonesia, 2004 53. Dalam buku laporan tersebut, van Linschoten menjabarkan potensi yang terkandung di Asia untuk kepentingan perdagangan bangsa Eropa, termasuk India, Persia Iran, dan informasi yang dibawa Cornelis dari Lisboa ternyata nyaris selaras dengan laporan van Linschoten. Kepulauan rempah-rempah yang dimaksud terletak di timur jauh sana, lebih jauh lagi dari India, dan dikenal dengan nama Bantam atau 1594 itu, para pedagang di Belanda, termasuk Cornelis, ini lantas bersatu dan membentuk perserikatan niaga. Perkumpulan ini diberi nama Compagnie van verre te Amsterdam atau perusahaan jarak Jauh yang berpusat di Amsterdam John Bucknill, The Coins of the Dutch East Indies, 2000 9.Perserikatan saudagar Belanda ini kemudian mulai menyusun rencana untuk melakukan penjelahan samudera dengan harapan bisa menemukan kepulauan rempah-rempah. Cornelis de Houtman ditunjuk untuk memimpin pelayaran besar dan penuh tantangan yang akan dimulai pada 2 April 1595 menjadi salah satu orang paling berpengaruh. Selain karena berhasil mendapatkan informasi dari Portugal, termasuk pernah ditangkap dan dipenjara oleh otoritas di sana, ia juga menyumbang dana sebesar gulden untuk persiapan pelayaran itu, sebagaimana diungkapkan Peter Fitzsimons 2012 dalam buku berjudul Penuh Bahaya Ada empat kapal yang diberangkatkan, masing-masing bernama Amsterdam, Hollandia, Mauritius, dan Duyfken. Dipaparkan dalam buku Ship Decoration 1630-1780 2013 karya Andy Peters, dengan empat kapal inilah orang-orang Belanda untuk pertamakalinya mengarungi lautan menuju timur jauh hlm. 16.Ternyata tidak mudah bagi armada besar Belanda pimpinan Cornelis de Houtman untuk mencapai bahkan menemukan Banten. Begitu banyak rintangan yang mereka hadapi selama mengarungi beberapa pekan setelah meninggalkan Amsterdam, banyak anggota penghuni kapal yang terserang penyakit. Paling parah adalah wabah sariawan lantaran menipisnya stok makanan. Belum lagi terjangan badai yang nyaris saban waktu melanda keempat kapal selama perjalanan, terutama konflik antar-penumpang atau kru yang tidak suka dengan aturan dari kapten kapal, juga menjadi kendala tersendiri. Sejumlah pertikaian terjadi dan tak jarang menyebabkan nyawa melayang, juga tidak sedikit yang harus dikurung di penjara singgah di Madagaskar, pulau yang berada di Samudera Hinida selepas pantai timur Afrika, semakin banyak kru yang tewas. Tidak kurang dari 70 orang meninggal dunia dan dikuburkan di pulau ini. Teluk Madagaskar kemudian dikenal dengan istilah “kuburan orang-orang Belanda”.Dibeberkan oleh Russell Shorto dalam Amsterdam A History of the World's Most Liberal City 2013, hanya dalam tempo enam bulan sejak keberangkatan, lebih dari seperempat orang yang ikut dalam ekspedisi ini harus kehilangan dan kru tampaknya tidak mempersiapkan diri untuk menghadapi iklim dan alam tropis yang jauh berbeda dengan kondisi di Belanda. Satu per satu awak kapal bergelimpangan, pingsan lantaran kehausan dan tidak tahan dengan cuaca panas khas kawasan tropis. Menemukan Nusantara Setelah lebih dari berbulan-bulan mengarungi samudera luas dengan aneka macam rintangan yang amat mengerikan, akhirnya armada Cornelis de Houtman berlabuh di Banten pada 27 Juni 1596. Saat tiba, hanya 249 orang yang selamat sampai di dan para saudagar besar beserta kru mengenakan gelar kemiliteran untuk menambah wibawa mereka menghadapi orang-orang di tanah yang baru mereka temukan itu. Harapannya, kehadiran mereka bisa diterima, bahkan dihormati oleh tuan & Foskelien van Goor dalam Prelude to Colonialism The Dutch in Asia 2004 menyebutkan, orang-orang Belanda yang sejatinya berprofesi sebagai pedagang itu banyak yang memakai gelar kapten atau laksamana. Sedangkan Cornelis memilih gelar kapten mayor hlm. 27.Merapat di bandar dagang milik Kesultanan Banten, Cornelis terperangah melihat suasana pelabuhan yang ternyata riuh oleh kesibukan. Kotanya pun besar dan cukup ramai, bahkan tidak jauh berbeda dengan kota tersibuk di negeri Belanda, Lodewijk, saudagar Belanda yang ikut dalam rombongan Cornelis, seperti dikutip dari buku Ragam Pusaka Budaya Banten 2007 karya Tri Hatmadji, menghitung paling tidak ada 36 kapal asing yang sedang singgah dan berlabuh di Banten kala itu hlm. 142.Dalam pengamatan Lodewijk dan Cornelis, sebagaimana dikutip dari buku Catatan Masa Lalu Banten 1993 yang disusun Halwany Michrob dan ‎A. Mudjahid Chudari, pusat pemerintahan Kesultanan Banten tertata dengan baik dan rapi, dikelilingi oleh tembok lebar dari bata merah hlm. 87.Luas kota ini kira-kira nyaris setara dengan Amsterdam, dan seperti ibukota Belanda itu, di Kota Banten juga terdapat banyak kanal yang seluruhnya bisa dilayari. Kapal-kapal Belanda yang ditumpangi Cornelis, juga semua kapal asing, wajib memasuki pintu gerbang khusus dan harus membayar ongkos kedatangan bangsa asing ini memang disambut dengan baik oleh penduduk setempat, termasuk oleh otoritas Kesultanan Banten. Saat itu, Banten diperintah oleh Sultan Abdul Mafakhir Mahmud Abdulqadir yang baru saja naik takhta 1596-1647.Cornelis seharusnya bisa menunaikan misinya, yakni membeli rempah-rempah yang dibutuhkan, karena transaksi perniagaan di Banten amat gampang. Barter, bahkan mata uang, sudah menjadi alat pertukaran yang cukup orang-orang Belanda yang belum lama menginjakkan kaki di tanah Banten itu justru bertingkah buruk, terutama dengan seenaknya keluar-masuk Kota Banten. Penduduk setempat yang tadinya menerima kini berbalik sikap lantaran tidak suka dengan perangai orang-orang asing perilaku yang tak pantas itu, banyak orang yang ditangkap oleh aparat Kesultanan Banten dan dijebloskan ke penjara, salah satunya adalah Frederick de Houtman, kakak Cornelis. Portugis juga turut bermain dalam situasi ini. Kala itu, Portugis –yang punya berpengaruh besar dalam perdagangan di beberapa wilayah di Nusantara –bermitra dengan Kesultanan oleh Slamet Muljana dalam buku Runtuhnya Kerajaan Hindu-Jawa dan Timbulnya Negara-negara Islam di Nusantara, pihak Cornelis terpaksa membayar uang pembebasan. Mereka diusir, digiring ke luar dengan tembakan meriam dari benteng Kota Banten hlm. 271.Misi Cornelis di Banten memang belum berhasil kendati tidak bisa juga dibilang gagal sama sekali. Namun, inilah untuk pertamakalinya armada Belanda menemukan jalur dan akhirnya tiba di negeri surganya rempah-rempah. Dan, Cornelis de Houtman adalah perintis arahnya, pembuka jalan kolonialisme Belanda di Nusantara. - Humaniora Penulis Iswara N RadityaEditor Ivan Aulia Ahsan Oleh Benny Ohorella, Penulis dan Penikmat Sejarah Pada 11 September 1599, Cornelis de Houtman, dibunuh oleh Laksamana Keumala Hayati dari Aceh, lalu armada de Houtman disita. Ini adalah ekspedisi dagang kedua Belanda ke Nusantara. Sikap de Houtman yang pongah dan kasar, memicu konflik hampir di semua tempat yg dia kunjungi. Pada kunjungan pertama thn 1596, dia diusir dari Banten. Ketika armadanya diserang perompak di lepas pantai Tuban, dia menumpahkan kemarahannya dgn menyerang sejumlah kampung di pulau Madura yg justru telah menolong dia dan orang-orangnya memperbaiki kapal dan merawat mereka yang ini mendorong Ratu Elizabeth I memilih jalur diplomasi, dgn mengirimkan surat permohonan restu kepada Sultan Aceh utk mengizinkan Inggris berdagang di Nusantara. Restu Sultan Aceh ini diikuti oleh sejumlah Sultan di Nusantara, sehingga mereka ramai-ramai mengikat perjanjian dagang dengan Inggris, salah satunya Banten. Tahun 1602, VOC berdiri, sebuah perusahaan swasta multinasional yang dimaksudkan utk menyatukan berbagai usaha dagang yang dimiliki orang-orang Belanda dalam satu koordinasi. Perusahaan ini walau saham-saham utamanya dimiliki oleh para Staten Generale Belanda tapi selebihnya bisa dimiliki oleh siapapun yang bisa urun modal baik berupa uang, barang ataupun tenaga. Dengan cara ini, sebuah negara kecil seperti Belanda bisa berkompetisi melawan para raksasa seperti Inggris, Spanyol ataupun satu misi VOC yang pertama adalah memperbaiki hubungan dgn Kesultanan Banten, mengingat berita dari Cornelis de Houtman dulu, Banten adalah salah satu sumber utama rempah-rempah, dan karena kekurangajaran Cornelis saja perdagangan dengan Banten berantakan. VOC lalu datang dengan membawa banyak hadiah dan janji perdagangan yang menguntungkan. Sultan Banten lalu mengizinkan VOC mempuyai wilayah sebagai tempat mereka melabuhkan kapal dagang, kantor administrasi dan membangun gudang. Sultan Banten lalu menugaskan Pangeran Jayakarta mencarikan wilayah tersebut, Pangeran Jayakarta lalu memberikan wilayah di tepi timur Sungai Ciliwung, di sebrang istana dan benteng Jayakarta yg berada di tepi barat Sungai Ciliwung. Di sana VOC mendirikan benteng kecil, dermaga dan bangunan kantor dan gudang. Pembangunan pos dagang permanen VOC pertama di Nusantara ini selesai tahun itu pada tahun yang sama 1602, Banten mengetahui bahwa Sultan Aceh telah merestui Inggris untuk masuk ke Nusantara, dan cara Inggris yang sopan ini membuat Pangeran Jayakarta merasa perlu mengimbangi Belanda dengan mengizinkan Inggris juga memiliki perwakilan Banten. Ketika itu memang kedudukan Belanda terlihat semakin lama semakin kuat. Pangeran Jayakarta mengizinkan Inggris membangun benteng, dermaga dan berbagai yang serupa dengan VOC di tepi barat Sungai Ciliwung, bahkan berdekatan dengan istana Pangeran Jayakarta. Hal ini membuat VOC marah dan mengajukan keberatan kepada Pangeran Jayakarta, tapi Pangeran Jayakarta tidak menanggapi. Dan hubungan VOC dengan Banten, terutama dengan Pangeran Jayakarta mulai 1618, konflik ini pecah menjadi konflik bersenjata. Pasukan Pangeran Jayakarta dibantu pasukan Inggris saling serang dengan para prajurit VOC. Di sini terlihat sifat multinasionalnya VOC. Pasukan Banten terdiri dari orang-orang Banten atau Demak, pasukan Inggris terdiri dari orang-orang Inggris, tapi prajurit VOC terdiri dari orang-orang Belanda, Jepang, negara-negara Skandinavia bahkan orang-orang Inggris dan Jawa Banten/Demak sendiri. Ya, karena VOC bukanlah sebuah negara, tapi sebuah perusahaan. Dalam pertempuran itu, kebetulan armada Inggris berada di sekitar Laut Cina Selatan, maka tak berapa lama 15 kapal perang Inggris tiba di Batavia, dan segera membuat VOC kocar-kacir. Benteng VOC babak belur tapi bertahan, walaupun begitu hal itu cukup untuk membuat Gubernur Jenderal VOC di Hindia Timur, Jan Pieterzoon Coen harus melarikan diri ke Ambon. Di sana VOC baru saja menaklukkan benteng Portugis, dan Coen berharap bisa bersembunyi di sana sambil menyusun armada baru utk mengatasi kekisruhan di itu di Jayakarta yang ditinggal Coen, benteng VOC hampir menyerah, penjaga benteng VOC sudah tinggal 24 orang, walau persediaan amunisi masih banyak, tapi tembakan meriam-meriam Inggris terus membombardir tembok benteng. Tapi, perkembangan buruk justru terjadi di kubu Banten - Banten meminta Pangeran Jayakarta menegosiasikan ulang perjanjiannya dgn Inggris, krn menurut Sultan, perjanjian sebelumnya dibuat tanpa persetujuan Sultan Banten. Pangeran Jayakarta, diminta datang ke pusat Kesultanan Banten dekat Serang sekarang dan tidak diizinkan kembali sebelum masalah ini selesai. Inggris marah dengan keadaan ini, karena mereka beranggapan bahwa perjanjian mereka telah legal sehingga tidak ada alasan utk dinegosiasikan ulang. Inggris menghentikan bantuannya dalam pertempuran dengan VOC, membuat para penjaga benteng VOC bisa bernafas lega, tidak ada lagi meriam-meriam Inggris yg menyalak menghantam benteng mereka. Senjata pasukan Banten tidak ada pengaruh apa-apa terhadap tembok benteng yang kondisi ini, VOC merasa bahwa inilah saat yg tepat utk melakukan pembalasan. Bulan Mei 1619, Coen datang kembali dengan 17 kapal perang dan lebih dari 1000 orang pasukan darat. Ketidakseriusan Inggris dan posisi Pangeran Jayakarta yang tidak di lokasi, membuat pasukan VOC bisa merajalela. Benteng VOC segera dibebaskan dari pengepungan dan bahkan menyerang langsung Jayakarta sendiri. Melihat ini, Inggris memilih melarikan diri. Pasukan VOC pun berhasil merebut Jayakarta dan membakar habis semua dan menghancurkannya hingga rata dengan lokasi tempat dulu Jayakarta berdiri, Coen mendirikan benteng baru yang lebih luas dan besar. Diperlengkapi secara kemiliteran dengan sangat baik. Dan tanggal 18 Januari 1621, secra resmi sebuah kota baru berdiri dengan nama Batavia. Diambil dari nama Batavii, sebuah nama suku Jerman yang dulu mendiami pulau2 di muara sungai Rhine. Pulau2 di zaman purba ini akhirnya menjadi satu setelah suku ini menguasai cara mengeringkan rawa-rawa dan wilayah sungai yg dangkal sehingga menjadi negeri Belanda Netherlands == tanah rendah. Diyakini, suku Batavii ini adalah nenek moyang orang sini terlihat bahwa jika dihitung dengan benar maka nusantara ini tidak dikuasai VOC lalu lanjut Belanda selama 350 tahun, tapi jauh kurang dari itu. Kenapa? tahun 1596, orang Belanda pertama saja baru datang 1942 - 1596 = 346 tahun, dan itu sudah keliru. Bahkan armada dagang Belanda hancur lebur di tahun 1599. Tahun 1602, VOC baru berdiri dan baru tahun 1621 mampu menaklukkan Jayakarta. Inilah tempat pertama yg DIREBUT dari sebuah kerajaan di nusantara. Tahun 1605, memang VOC bisa bercokol di Ambon tapi itu bukan dengan merebut wilayah Hitu sebagai kerajaan bawahan Kesultanan Ternate di pulau Ambon tapi dengan merebut benteng Portugis yg didirikan di wilayah kosong di seberang benteng Hitu di teluk Ambon. Ketika itu Hitu hanya menguasai wilayah yg sampai sekarang dikenal sebagai jazirah Lei Hitu di pulau itu kadang kemenangan VOC/Belanda adalah karena kemampuan mengeksploitasi kesempatan bagaimanapun Belanda baru berani mendeklarasikan Pax Neerlandica pada masa Gubernur Jenderal Johannes van den Bosch 1830 - 1833, setelah kemenangan dalam Perang Diponegoro tahun 1830. Di masa ini pun Kesultanan Aceh belum takluk sampai 1904. BACA JUGA Ikuti News Analysis News Analysis Isu-Isu Terkini Perspektif Klik di Sini

pengganti cornelis de houtman dalam menguasai indonesia adalah